|
Bismillahirrahmanirrahim... tulisan ini diambil dari email tulisan orang lain dan telah diubahsuai dengan kata-kata yang sesuai (bahasa fening). afwan kalau tak faham, kerana struktur ayat tak diubah, jadi wajar kalau ada yang kurang dimengertikan (tambah fening). semoga bermanfaat buat sesiapa yang merasainya. ---------------------------------------------------------------------------------------------------
mengelola semangat
Masing-masing kita punya momentum saat jiwa kita dibangkitkan, semangat meluncur keatas, saat dimana kita merasa bisa mewujudkan segalanya. Beberapa diantara kalian mungkin ada terbangkitkan dengan membaca. Ada juga yang 'teruja' dengan berbincang dengan orang-orang. Bahkan ada yang semangatnya muncul ketika sedang kontemplasi/muhasabah dengan diri sendiri. Cara kita untuk diri kita yang unik.
Masalahnya ketika semangat muncul pada hari Sabtu, maka pada hari Isnin semangat kita sudah menurun. Pertanyaannya adalah, bagaimana kita membangkitkan semangat saat kita memerlukan diri yang 'terbakar'? Bob Edward menjelaskan, "Kembalilah pada momentum saat diri terbangkitkan." Maksudnya, jika kita sedang menghadapi exam esok hari, ingat-ingat kembali saat kita berazam diawal tahun bahwa kita ingin menyelamatkan izzah dien di batch pada waktu result diumumkan. Jika kita berhadapan dengan consultant examiner, ingat-ingatlah kembali saat dalam usrah ketika kita diajarkan untuk tidak menjadikan examiner/consultant sebagai toghut yang karenanya, belajar tak tenang, hafalan mudah melayang, tidur tidak nyenyak, dan makan tidak enak. Jika kita akan mengisi suatu acara publik atau memimpin usrah dan kita merasa sempit dan terbebani, maka kita perlu mengingat-ingat kembali taujih ikhwah/akhawat kita ketika dia berhasil meyakinkan diri betapa berharganya momentum ceramah kita. Bahwa dalam 1000 kali ngisi, kita tidak akan pernah tahu pada taujih kita yang mana saat seorang pendengar menyimak dan tergerak untuk beramal.
Sebagai ilustrasi, saya memilih diskusi dengan seorang al akh sebagai instrumen kebangkitan diri. Maka ana pun menciptakan momen kebangkitan lewat instrumen tadi dalam berbagai topik. Misalnya, ana akan minta dinasihati tentang kejayaan, dalam berbagai hal, adalah akumulasi dari daily habit kita. Biasanya akan berakhir dengan ana yang termotivasi untuk menyusun target harian untuk kesuksesan besar. Manakala ana menemukan diri ana dalam suatu ba'da subuh merasa malas, maka yang perlu ana lakukan adalah membawa ingatan ana pada percakapan ana dengan al akh, dimana tempat kita diskusi, dan benar-benar membawa jiwa kembali pada momentum saat ana diceramahi. Bayangkan tentang setting-an saat percakapan berlangsung. Dengarkan suara al akh itu dalam hati.
Pernah dalam suatu malam sebelum ana ngisi acara orientasi kampus, ana konsultasi dengan seorang akh tentang pengisian yang akan ana bawakan. Ana mengeluh, rasanya sekadar transfer pengetahuan saja ya isi power pointnya. Jreng, mulailah akh tadi memberi nasihat tentang pentingnya momentum esok hari, saat dimana Allah memberi kesempatan pada kita untuk 'menanam' sedikit untuk munculnya generasi2 baru dalam da'wah dan seterusnya. Ana menyemak taujih ini sambil mencatat. Hasil dari sebuah semangat yang terbangkitkan adalah bertahannya ana sampai jam 3 pagi malam itu karena menyempurnakan materi presentasi. Dan besoknya tampil sepenuh jiwa tanpa ngantuk. Lalu apa yang ana lakukan demi menghadirkan jiwa yang bersemangat setiap akan ngisi? Ana tinggal mengingat-ingat momentum kebangkitan tersebut sambil membuka catatan. Dan, dengan izin Allah, semangat itu muncul. Kini, ana membiasakannya.
Sekali lagi, setiap diri kita pernah mengalami saat kita sangat dekat dengan Allah (mungkin saat qiyamullail malam Ramadhan), dan saat kita sangat bersemangat (ketika membaca tulisan). Bahkan ada diantara kita meningkat semangat beramal dengan membayangkan wajah ikhwah/akhawat yang pernah memperkenalkan dakwah ini pada diri. Anyway, essence tulisan ini adalah kembalilah pada momentum kebangkitan diri, by any means. Selamat mencuba!
posted
by
husnulkhatimah
12/07/2005 03:27:00 pm
|